Malu tau!

Hidup ini sudah terlalu memalukan
Untuk mulai dari awal
Seperti bayi yang hanya berbalut ketuban ibu

Perlu kurban yang banyak
Siapa mau?

Sehari-hari adanya kelahi
Berebut kuasa, cari muka
Bilang saja kalau kau tak tau malu
Toh kami ini tuli dan bisu

Pecah kepalaku melihatnya
Kuleletkan saja ceceran otakku di bajumu
Lalu ku semburkan darah kentalku
Ke atas kepalamu yang besar itu

Iklan

Di Kamar Gelap

Memukul peri memanggul tak sanggup lagi
Kepalaku penuh duri
Tubuhku yang biru lebam tertutupi kulit coklat kekuningan
Sedang hati yang setengah mati terus berpatri

Aku panggil semua-semua yang berperang
Dibalut harga diri yang tak goyang
Sembari ku hembuskan satu dua nafasku
Jantungku kutusuk bambu

Hari ini adalah hari yang sama
Ketika janji harus ditepati
Ketika rindu harus diobati
Di tengah malam membinasa

Wanita Indonesia dan masyarakat patriarki

Ratusan wanita Bali mengusung "Gebogan" yaitu sesaji dari hasil bumi yang disusun dalam rangka Parade Gebogan di Kabupaten Tabanan, Bali, Kamis 28 November 2013. (Johannes P. Christo)
Ratusan wanita Bali mengusung “Gebogan” yaitu sesaji dari hasil bumi yang disusun dalam rangka Parade Gebogan di Kabupaten Tabanan, Bali, Kamis 28 November 2013. (Johannes P. Christo)

Sepertinya sah-sah saja kalau kita sebut masyarakat Indonesia adalah masyarakat patriarki. Pasalnya, kita sebagai masyarakat Indonesia sering sekali menempatkan laki-laki sebagai sosok yang lebih unggul dalam banyak hal. Hampir setiap hal yang dikepalai oleh wanita akan terlihat atau terasa aneh, tabu, bahkan mungkin akan dirasa tidak pantas.

Pernah suatu kali saya menyaksikan acara Mata Najwa di televisi, yang pada waktu itu tamunya adalah Panitia Seleksi Capim KPK; 9 Srikandi. Acara tersebut kalau tidak salah digelar di salah satu kampus di Jakarta.

Kemudian pada acara tanya jawab dengan penonton yang rata-rata adalah mahasiswa/i kampus tersebut, seorang wanita berdiri dan memegang mic untuk kemudian bertanya yang kurang lebih seperti ini; “Pansel Capim KPK semuanya wanita, apakah ibu-ibu merasa mampu menjalankan tugas berat tersebut?”

Mendengar pertanyaan tersebut, jujur saya kaget. Mata saya terbelalak karena pertanyaan seperti itu ditujukan kepada sembilan wanita yang dipercaya insting dan kemampuannya untuk memilih ketua lembaga anti rasuah nasional.

Saya percaya, jika kesembilan wanita di atas panggung tersebut adalah macan, si penanya tadi akan langsung diterkam beramai-ramai sekaligus Najwa Sihab akan ikut menggigit. Itu jelas-jelas sebuah pertanyaan yang paling tidak sopan terhadap wanita-wanita pintar dan tangguh, yang bekerja sama kerasnya bahkan mungkin lebih dengan para lelaki untuk mendapatkan kepercayaan dan posisi tersebut.

Untungnya pertanyaan tersebut dijawab dengan tenang sambil tersenyum sinis oleh salah satu anggota Pansel tersebut, dan si mbak tadi sepertinya belum cukup tajam hidungnya untuk mencium sinisme atau sarkasme. “Tentu saja bisa, kenapa tidak?!” Kurang lebih seperti itu.

Tapi yang menjadi perhatian saya bukan mengenai kurang sensitifnya pertanyaan mbak-mbak itu, tapi lebih ke arah bagaimana bisa pertanyaan itu keluar, dan tidak kurang keluar dari mulut seorang wanita juga.

Maka saya fikir jawabannya ada di kalimat pertama artikel ini, masyarakat Indonesia adalah masyarakat patriarki.

Bagaimana tidak, wanita Indonesia sejak jaman dahulu telah diarahkan untuk mengambil peran sebagai pendukung laki-laki. Menjadi istri yang menyiapkan makan, minum, pakaian, sampai seks pun mungkin mereka hanya tahu untuk mengangkang dan membiarkan sang suami bekerja. Kalau boleh jujur, saya terganggu dengan pertanyaan tersebut, karena menurut saya, secara tidak langsung mbak tadi meragukan kaum wanita untuk mengambil peran utama, kaumnya sendiri.

Selanjutnya, saya juga kecewa setelah berfikir mungkin masih banyak wanita Indonesia yang tidak mengenal feminisme ketika lingkungan internasional sudah berada di tahap penggugatan berbagai bentuk patriarki dan diskriminasi terhadap wanita di lingkungan sosial.

Nah, masalah  yang ingin saya kedepankan di sini adalah, bagaimana asal mulanya masyarakat Indonesia memegang erat paham patriarki.

Pertama, saya berfikir bahwa agama adalah alasan utama yang menggiring masyarakat Indonesia untuk menganut paham patriarki.

Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, jadi saya akan langsung saja menunjuk agama islam memiliki peran penting dalam menanamkan patriarki di diri masyarakat Indonesia.

Dalam islam, wanita merupakan sosok yang paling dimuliakan. Kemudian mungkin diartikan oleh masyarakat awam bahwa wanita perlu perlindungan, lebih jauh lagi, wanita tidak bisa melindungi diri sendiri, lebih jauh lagi, wanita adalah kaum yang lemah, sampai akhirnya masyarakat itu juga melahirkan pengekangan terhadap kebebasan kaum wanita.

Terus dan terus mengakar hingga melahirkan paham bahwa lelaki “lebih” dari wanita, oleh karena itu laki-laki harus menjadi sosok yang berdiri paling tinggi atau paling depan demi menjamin kehidupan yang “baik” bagi kaum wanita.

Menurut hemat saya, mungkin seperti itu agama mempengaruhi masyarakat Indonesia untuk menganut paham patriarki. Tapi, anggapan tersebut disanggah oleh Ketua Pengurus Besar NU, Slamet Effendy Yusuf dalam sebuah diskusi pada April 2015 kemarin.

“Bukan agama yang mengekang wanita, tapi budaya setempat,” kata beliau.

Kemudian beliau mencontohkan; “di arab saudi sana, wanitanya menutup wajah dan seluruh badan sampai hanya menyisakan mata saja. Di al quran tidak ada perintah seperti itu, tapi karena di sana banyak gurun berpasir, jadilah para wanitanya menutupi diri seperti itu, dan sekarang setelah ratusan tahun malah jadi kewajiban di sana.”

Selain itu, kata beliau, seringnya keliru tafsir al quran dan hadist juga punya banyak andil dalam melahirkan ide di masyarakat bahwa agama lah yang mengekang wanita. “Wanita di dalam islam itu untuk dimuliakan, bukan dibatas-batasi. Di Aceh sudah ada sultana, khalifah pun ada yang perempuan, Islam tidak pernah membatasi,” imbuhnya.

Begitu lah kurang lebih penjelasan dari perwakilan NU dalam diskusi April 2015 kemarin mengenai anggapan bahwa agama menjadi pengekang kebebasan wanita. Sepertinya tidak mengherankan jika anggapan tersebut muncul di masyarakat melihat seringnya agama islam ditunjuk sebagai ajaran yang bertanggung jawab dalam banyak hal dewasa ini, apalagi di Indonesia yang merupakan populasi muslim terbesar dunia.

Selanjutnya, alasan mengenai kenapa patriarki menjadi acuan masyarakat Indonesia juga pernah ditulis oleh salah satu jurnalis Indonesia, Julia Suryakusuma. Menurut Julia, patriarki di Indonesia dibesarkan oleh konstruksi sosial yang dipraktekkan pada zaman Orde Baru lewat program seperti PKK dan Dharma Wanita.

Program-program pemerintah Orde Baru seperti yang disebutkan di atas menurut Julia merupakan upaya hegemoni pemerintah terhadap kaum wanita. Karena dengan kegiatan seperti PKK dan Dharma Wanita, para wanita Indonesia akan diarahkan untuk mengambil peran menjadi istri yang berdiri di belakang suami, mendahulukan laki-laki dalam berbagai hal.

Dalam tulisannya yang berjudul “Ibuisme Negara“, Julia menulis demikian; “jangan terkecoh. Mekanisme dan dampak kontrol pemerintahan masih tetap sama”, dan “konstruksi sosial yang dominan sekarang telah bergeser menjadi ‘Islami’, atau, paling tidak versi Islam yang dikehendaki kalangan konservatif Islam, yang menuntut wanita menjadi penurut dan berada pada posisi subordinat”.

Sampai di sini, mungkin akan muncul pertanyaan; “apakah patriarki adalah hal yang buruk?” Saya akan jawab tidak tahu, yang jelas, diskriminasi gender sepertinya tidak cocok di era modern seperti sekarang.

Cinta itu Berasal dari Awan

Gmz…

DHNIRWN

ibu selalu berlutut di depan rumah
menghadap ke arah pot tanaman yang dirawatnya
sekian tahun, tak hentinya dia melewatkan
ketika bulir pagi mengelus setiap lembaran daun

diseka pada lipatannya
seolah akan terluka jika terlalu keras jemari ibu membasuh
sedikit-sedikit ibu menghela nafas
khawatir bulir itu nantinya tak cukup lagi

‎ibu lalu mendongakkan kepala
‎ke arah langit yang tengah digeluti guratan kelabu‎
mungkin memang cinta itu berasal dari awan
yang turun ketika subuh hendak membangunkan orang
dan jatuh di halaman depan
ketika ibu mengumpulkannya

lalu ditampungnya ke dalam panci
bercampur dengan keringat ayah yang diperamnya
sedari sore kemarin‎

###

puisi ini tercipta ketika saya meramunya dari ‘paksaan’ kedua kawan yang tengah setengah hilang kesadaran atau memang saat itu mereka sedang benar-benar sadar

Lihat pos aslinya

Mengapa kau menandai waktu?

Kenapa? Apakah waktu menandaimu juga?
Sepertinya iya. Aku menua karenanya
Orang-orang yang aku kenal sibuk bepergian
Tanpa mereka bilang waktunya sudah habis
Aku fikir; memangnya kenapa lagi mereka pergi selain karena waktu?

Dulu sudah lama sekali nenekku juga pergi
Dari situ orang-orang tidak bilang apa-apa padaku
Aku mengerti dengan sendiri kenapa nenekku pergi
Sekaligus paham bahwa nanti waktu juga akan datang padaku

Tik-tok tik-tok tik-tok
Semena-mena sekali aku fikir si waktu ini
Siapa yang menyuruhnya datang dan mengajak pergi orang-orang?
Apa dulu nenekku, kakekku dan saudara-saudaraku terima saja diajak pergi?
Kalau tidak, sungguhlah aku marah padamu

Hei, waktu. Kami juga menandaimu, kenapa kami tidak bisa menjemputmu?
Kau tidak adil
Coba tanyakan pada dirimu sendiri, apakah kau menandai dirimu sendiri?
Jangan curangi kami dengan hukum yang kami buat
Kami tidak bisa dibodohi terus-terusan

Mistik dan Ilmu Pengetahuan

UTOPHORIA

Manusia dengan pengetahuan yang terbatas selalu mencari dan mencari kepuasan untuk mengetahui apa yang ada di luar batas pemikirannya. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan manusia semakin menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahui oleh pikirannya. Kemajuan di bidang astronomi dengan teori dan penelitiannya telah menjadikan bumi hanya sebagai suatu bongkahan yang melayang di alam raya diantara jutaan bongkahan lainnya. Para ilmuan mencari pengetahuan baru di ujung semesta dan meninggalkan bumi yang sudah diserap segala informasinya.

Bumi tempat tinggal manusia sejak zaman nenek moyang kita nabi Adam telah menjadi barang kuno bagi ilmu pengetahuan. Sudah tidak ada lagi misteri istimewa yang harus dipecahkan lagi oleh ilmu pengetahuan. Selayaknya manusia yang selalu haus akan pengetahuan, para ilmuan kini lebih tertarik mempelajari hal yang besar lainnya, yaitu misteri alam raya.

Matahari, bulan dan bintang yang dulu dipuja sebagai kekuatan agung jelmaan para dewa, kini hanyalah sebagai serpihan pecahan dari proses ledakan bintang yang…

Lihat pos aslinya 428 kata lagi

TGPF Mei 98, Pencari Fakta atau Pengisi Data?

Bulan Mei ini saya disuruh nulis tentang sejarah kelam Indonesia di tahun 1998. “Gilee, gw ga tau ape-ape,” saya fikir. Bukannya tidak tau apa-apa, saya tau tapi “apa-apa” nya ini yang saya tidak tau. Untunglah saya hidup di zaman jauh setelah negara api menyerang, jadi bisa menikmati dan memanfaatkan internet. Jadi, ya sudah saya coba sekenanya saja, dan saya posting ulang di sini plus pandangan pribadi yang tidak bisa saya tulis di situs sebelah.

——

Bulan ke lima sejak tahun 1998 selalu menjadi bulan yang dipenuhi dengan drama dan konflik karakter bangsa di atas panggung sendiri, dalam hal ini yang saya maksud adalah cikal bakal reformasi Indonesia. Dimulai sejak tahun 1998 dan memanas di bulan Mei. Tahun 2015 ini tepat menandai 17 tahun kerusuhan yang terjadi pada tanggal 13-15 Mei ’98. Kerusuhan yang dipicu oleh protes mahasiswa untuk menurunkan presiden Soeharto dari kursi kekuasaan, dan ditembakjatuhnya empat mahasiswa dalam bentrok dengan pihak keamanan pada tanggal 12 Mei 1998 dulu.

Masyarakat Indonesia yang mendengar kabar tersebut gempar, ketakutan mendengar bahwa pihak keamanan yang seharusnya menjaga keselamatan warganya mengacungkan senjata dan menarik pelatuknya ke arah mahasiswa dan menewaskan empat orang. Televisi, siaran radio dan koran-koran bersautan menceritakan bentrok antar mahasiswa dan pihak keamanan pada waktu itu. Alhasil, keesokan harinya pada tanggal 13 Mei masyarakat mengamuk dan melakukan pembakaran, penjarahan, pemerkosaan antar sesama untuk menunjukkan kemurkaan mereka terhadap rezim pemerintahan yang berkuasa.

Di hari itu juga sebuah anti-klimaks terjadi. Ketakutan yang muncul dalam diri masyarakat atas kebrutalan pihak keamanan saat bentrok dengan mahasiswa justru membuat masyarakat melakukan tindakan melawan hukum secara serentak. Penjarahan toko-toko, pembakaran, pemerkosaan, hingga diskriminasi terhadap minoritas yang dianggap mendapat keuntungan di rezim yang berkuasa pada waktu itu. Maksud saya tentunya warga Indonesia keturunan Tionghoa, Chinese, atau setelah Keppres SBY tahun 2014 lalu menjadi Tiongkok. Entah lah, suka-suka pak ‘Beye saja.

Tapi, beralih ke nasib bangsa Tionghoa sebentar, dari sedikit sejarah yang saya tau memang mereka sejak dulu di Indonesia sudah beberapa kali menjadi pelampiasan ketika terjadi kerusuhan. Para pelaku kerusuhan seperti alergi dengan mata sipit dan kulit yang terlalu putih, sehingga selalu menjadikan mereka pelampiasan amarahnya. Atau, menurut hemat saya (bohong, saya boros), ya kita itu rasis. Orang Indonesia keturunan Tionghoa itu sejarahnya panjang lho, sudah sejak 1431 orang China berdagang dengan pedagang Nusantara, dan Semarang jadi kota saksi atas sejarah panjangnya. Bahkan mereka yang keturunan Tionghoa belum tentu pernah ke China, yang menjadikan kita-kita yang rasis ini seperti anak kecil yang sekantung permennya diminta teman terus memukul sambil menangis. Huhuu~

Kembali ke Mei ’98, kenapa saya bilang bangsa Tionghoa dianggap mendapat keuntungan lebih dibanding rakyat pribumi pada zaman Soeharto? Sebenarnya, Soeharto itu tidak memberikan keuntungan apa-apa kepada Tionghoa Indonesia yang cere-cere, tapi bos-bos besar yang sipit-sipit itu memang jadi partner in crime Soeharto dalam menguasai Indonesia selama 32 tahun.

Dalam peristiwa 13-15 Mei ’98, korban jatuh tidak bisa dihindari, kerugian besar tidak dapat juga dikembalikan dengan mudah, luka-luka di dalam maupun di luar diri para korban yang selamat tidak akan pernah hilang, dan sejarah mencatat seberapa berasap dan kelamnya Indonesia saat itu.

Seiring berjalannya waktu rezim Soeharto jatuh, dan reformasi dimulai. Bersama dengan semangat baru reformasi, masyarakat kemudian mendesak pemerintah untuk menyelidiki kerusuhan di 13-15 Mei. Lewat keputusan bersama Menteri Pertahanan/ Panglima Angkatan Bersenjata RI, Menteri Kehakiman, Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, Menteri Negara Peranan Wanita dan Jaksa Agung maka dibentuklah Tim Gabungan Pencari Fakta (TPGF) peristiwa 13-15 Mei 1998 pada tanggal 23 Juli di tahun yang sama.

Lewat penyelidikan tentang peristiwa 13-15 Mei, terdapat tiga unsur pelaku yang dilaporkan TGPF, yaitu provokator, massa aktif dan massa pasif. Selain itu TGPF juga melaporkan bahwa pola kerusuhan adalah tindakan spontan lewat hasutan pihak tertentu (provokator) kepada massa aktif maupun pasif. Siapakah massa provokator ini? Di internet atau buku-buku tulisan ahli-ahli politik sebenarnya ada nama-nama yang disebutkan menjadi dalang para provokator. Seperti Benny Moerdani, loyalis Soeharto yang berkhianat karena terluka hatinya, Prabowo, Capres yang Pilpres kemarin kalah sama tukang mebel, dan Wiranto, yang saat ini adalah Ketua Umum partai politik yang se-ada-adanya. Cari sendiri ya, untuk lebih jelasnya. Panjang, brur.

Lanjut ke laporan TGPF tentang jumlah korban. Dalam sektor ini, data yang dimiliki TGPF berbeda antara satu dengan yang lainnya. TPGF yang berisi gabungan unsur pemerintah, Komnas HAM, LSM dan lainnya menghitung jumlah korban dengan angka yang cukup signifikan perbedaannya. Data yang datang dari Polda DKI, Kodam dan Pemda DKI menyebutkan masing-masing terdapat 200-500 korban meninggal, tidak termasuk korban luka, sedangkan data dari tim relawan menyebutkan 1.190 korban meninggal dan 91 luka-luka di Jakarta. Sementara di luar Jakarta, variasi angkanya lebih sedikit. Laporan Polri sebanyak 30 orang meninggal di luar Jakarta sementara dari tim relawan sebanyak 33 korban meninggal.

Laporan TGPF selanjutnya adalah kerugian yang dibagi ke dalam empat bagian; kerugian material, korban kehilangan pekerjaan, korban meninggal dunia dan luka-luka serta korban penculikan.

Lebih jauh, menurut analisa yang dilakukan TGPF terhadap peristiwa tersebut, setidaknya ada dua hal yang saling berhubungan dan menjadi pemicu kerusuhan. Pertama adanya krisis ekonomi yang terus memburuk sehingga menimbulkan pergumulan elit politik dalam isu pergantian kepemimpinan negara. Di sisi lain terjadi penculikan oleh pihak intelejen terhadap rakyat sipil dan penembakan mahasiswa Trisakti yang menjadi pendorong kerusuhan paling kuat.

Tapi sayang, hasil laporan TGPF seperti tidak memberikan apa-apa bagi masyarakat. Laporan tersebut sebatas memenuhi kebutuhan data untuk pemerintah tanpa ada proses lanjutan dari data yang terkumpul tadi. Padahal hingga saat ini sudah banyak buku yang ditulis mengenai aktor-aktor yang berada di balik kerusuhan Mei ’98. Tapi apalah arti tulisan-tulisan yang dibuat masyarakat tentang sejarah negaranya jika negaranya sendiri hendak melupakan sejarahnya. Sangat tidak Jas Merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah – Soekarno) sekali ini bapak-ibu pemerintah.

Tim khusus macam apa itu cuma bisanya cari data-data seperti kerusakan, korban, sebab-musabab, tapi menarik diri ketika seharusnya mencari dalang? Wartawan kemaren sore juga bisa, ga usah bikin tim khusus yang isinya orang-orang tua yang anak-anaknya harus makan 4 sehat 5 sempurna. Rusak.

Sampai sini kita seperti terus dibisikan lagu-lagu merdu untuk melupakan sejarah gelap Indonesia dan pelaku-pelakunya. Lalu, bagaimana nasib saudara/orang tua yang anak-anaknya jadi korban? Ya, mereka cuma bisa gelar Aksi Kamisan setiap hari Kamis sembari berharap pemerintah sudi membantu mereka cari tahu dimana anaknya, siapa bunuh anaknya, dan lain-lain.